Pages

Senin, 29 November 2010

Keajaiban ….. ! Cinta ….. ! Sukses …..!

Keajaiban Sedekah, Keajaiban Sholat Subuh, Keajaiban Shalat Tahajud, Keajaiban Shalat Dhuha, Keajaiban Puasa, Kejaiban Sholawat, Keajaiban Doa, Keajaiban Istighfar, Keajaiban Tidur, Keajaiban Kurma, Keajaiban Madu. Mungkin banyak lagi sederet buku yang judulnya dimulai dengan kata “Keajaiban”. Pilihan judulnya bisa mencerminkan isinya tetapi bisa juga hanya pilihan bahasa marketing untuk menarik orang membaca atau membeli. Misal judul “Keajaiban Sedekah”, isinya memang berisi mengenai keutamaan dan balasan yang diberikan kepada orang yang ikhlas bersedekah. Tetapi “Keajaiban Puasa” adalah sebuah terjemahan dari buku “Fiqh Shiam” (Fiqh Puasa) karangan Yusuf Qaradawi.

Kata “Keajaiban” sepertinya juga sudah menjadi mantra marketing, sama seperti kata “Cinta“. Lihatlah judul-judul buku berikut, Ada Apa Dengan Cinta, Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, Munajat Cinta, Cinta Adinda, Jejak-Jejak Cinta, Dalam Perjamuan Cinta, Coblos Cinta, Istikharah Cinta, dan masih banyak lagi. Cinta dalam judul-judul ini bisa memang merefleksikan perasaan penuh kasih sayang yang diwakili oleh kata cinta itu tetapi juga bisa juga sekedar nama orang yang dikisahkan di dalamnya.

Sukses. Satu kata lagi yang juga banyak muncul dalam judul-judul buku. Kalau tidak dimulai dengan kata sukses banyak juga yang menggunakan frasa-frasa berikut dalam judul-judulnya. Cara Sukses, Kiat Sukses, Inspirasi Sukses, Rahasia Sukses, Jalan Sukses, Panduan Sukses, Meraih Sukses, Jurus Sukses, Rumus Sukses, Resep Sukses.

Apa persamaannya ? Pertama, ketiga kata itu merefleksikan harapan-harapan kita. Orang mendamba cinta. Orang berharap ada kejaiban dalam aktivitasnya. Semua orang juga ingin sukses. Semakin dekat sebuah kata dengan harapan-harapan kita, semakin menarik kata itu untuk dibahas. Semakin kita ingin tahu lebih jauh mengenai ketiga hal itu. Keajaiban, Cinta, dan Sukses.

Kedua, pilihan terhadap kata-kata itu juga merefleksikan keinginan kita untuk cepat-cepat mendapatkannya. Balasan atau pahala atau manfaat instan dalam konteks kata keajaiban. Tips, trik, solusi cepat, quick-fix, short-cut, jalan pintas dan cara cepat untuk mendapatkan cinta dan kesuksesan.

Apa ada yang salah dengan pilihan-pilihan kata atau judul-judul itu ? Tentu tidak ada. Dalam domain pemasaran, perbukuan, pembicaraan sehari-hari, hal itu adalah sah-sah saja.

Yang menjadi catatan di sini adalah mengenai budaya instan yang dibentuk. Tentu saja setiap ibadah memiliki keutamaan, pahala dan manfaatnya masing-masing, sebagaimana yang dijelaskan oleh syari’ah. Tetapi memotivasi diri untuk beribadah semata-mata berharap agar keajaiban-keajaiban besar datang kepada kita (biasanya keajaiban disini juga terkait dengan masalah kesuksesan hidup) boleh jadi bukan cara tepat untuk menggelorakan semangat ibadah. Ibadah sebagai puncak ketundukan, kepatuhan dan cinta mensyaratkan keikhlasan dan ketepatan dalam melakukannya. Balasan atau reward instan adalah benar, tetapi kita tidak bisa memastikan kapan terjadinya. Apalagi dalam konteks kesuksesan bisa saja ibadah diperalat sekedar menjadi trik, tools, media, alat untuk mencapai sukses kita [mungkin tidak separah ini lah !]. Tetapi motivasi, niat adalah hal yang subtil (halus dan lembut) dalam hati kita. Siapa yang bisa memastikan kita sudah ikhlas ?

Cerita cinta adalah cerita yang diinginkan semua orang. Tetapi sekedar cerita cinta dangkal tidak menggerakkan kita untuk mencintai. Mungkin ia akan mengaduk-aduk perasaan kita, melalu novel, kisah atau film, tetapi tidak mendorong kita untuk belajar memberi. Tidak berarti semua novel, semua cerita atau film sama. Modus kita menyerap cerita yang menjadi pembeda.

Demikian pula dengan sukses. Bukan sukses yang menjadi masalah, budaya instan untuk mengejar sukses yang menjadi catatan. Ada kaidah yang mengatur sukses. Ada sunatullah yang bekerja. Ada prinsip yang mengatur. Ada kerja. Ada disiplin. Semua membutuhkan waktu. Bukan sekedar solusi cepat, instan. Walaupun ada saja orang yang cepat sukses, cepat kaya. Tidak berarti buku-buku mengenai sukses dan self-help tidak berbicara mengenai prinsip, disiplin, kaidah atau hukum. Tetapi spirit membaca, spirit pencarian kita (yang sekedar ingin cepat, instan) yang menjadi permasalahan.

Wallahu a’lam.
Read more >>

Senin, 08 November 2010

AYAT MUTASYABIHAT

Dia-lah yang menurunkan Al kitab (Al Quran) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, Maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya. Padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah, dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. [QS. Ali Imran: 7]
Ayat yang muhkamaat ialah ayat-ayat yang terang dan tegas maksudnya, dapat dipahami dengan mudah dan tidak perlu dita’wil.
Adapun ayat mutasyabihat adalah ayat yang samar maknanya, dan tidak mungkin dijangkau oleh nalar ulama sekalipun, sementara baik di dalam Al-Qur`an maupun dalam hadits tidak ada penafsiran yang bersifat qath’i ataupun yang zhanni terhadap lafazh tersebut. Aqal manusia tidak akan sanggup selain menyerahkan persoalannya kepada Allah SWT dan mengakui kelemahan dan keterbatasan dirinya.
Ayat-ayat mutasyabihat mengandung beberapa pengertian dan tidak dapat ditentukan arti mana yang dimaksud kecuali sesudah diselidiki secara mendalam. Dan ada pula ayat-ayat mutasyabihat yang pengertiannya hanya Allah yang mengetahui seperti ayat-ayat yang berhubungan dengan yang ghaib-ghaib misalnya ayat-ayat yang mengenai hari kiamat, surga, neraka dan lain-lain.
Termasuk juga kita temui ayat seperti Alif Lam Mim, Alif Lam Ro. Maka ayat-ayat seperti ini kita serahkan kepada Allah ta’wilnya. Allah juga bersumpah dalam Al-Qur`an dengan hari qiamat, dengan matahari, dengan waktu dhuha, dengan bulan, dsb. Ayat seperti itu juga termasuk ayat mutasyabihat.
Termasuk juga ayat mutasyabihat adalah ayat-ayat yang menunjukkan seakan-akan ia menyerupakan Allah dengan makhluq. Para ulama, meskipun mengakui tidak mungkinnya mengetahui makna ayat-ayat mutasyabihat secara pasti dan yaqin, namun ada di antara mereka yang berusaha untuk menggapai maknanya. Dalam hal ini mereka telah melakukan pembahasan dan sebagian dari ayat-ayat yang semula dianggap mutasyabihat telah diperjelas maknanya.
Ta’wil
Ta’wil adalah mengeluarkan (memalingkan) lafazh dari maknannya yang zhahir ke makna lain yang tidak zhahir yang dikandungnya.
Penerapan ta’wil hanya sah jika memenuhi tiga syarat, yaitu:
1. Lafazh tersebut memang menyimpan makna ta’wil walau pun itu sangat jauh. Artinya, makna itu tidak asing sama sekali dari lafazhnya.
2. Harus ada faktor yang memaksa diterapkannya ta’wil.
3. Ta’wil itu harus mempunyai sanad (sandaran) yang bisa dipegang, sebagai faktor penyebab diterapkannya ta’wil.
Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu, sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah tangan Allah di atas tangan mereka. [QS. Al-Fath: 10]
Lafazh ”Yadullah” (tangan Allah) bisa menimbulkan pengertian tasybih (penyerupaan). Sehingga zhahir nash ayat ini menyelisihi kaidah-kaidah agama. Kaena Allah itu tidak serupa dengan makhluq-Nya.
Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia. [QS. Asy-Syura: 11]
Maka faktor ini mendorong diterapkannya ta’wil. Selain itu, lafazh ”yad” (tangan) memang mengandung makna lain, misalnya kekuasaan, penyertaan, penerimaan, dsb.
Orang-orang Yahudi berkata: “Tangan Allah terbelenggu” …… Bahkan kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. [QS. Al-Ma-idah: 64]
Orang-orang Yahudi berkata bahwa tangan Allah itu terbelenggu. Maksudnya mereka ingin berkata bahwa Allah itu kikir. Kalau orang Indonesia biasa menyebutnya dengan tangan yang tergenggam atau ”tangannya mengepal”. Padahal sesungguhnya tangan Allah itu terbuka lebar, yaitu pemurah, suka memberi, tidak kikir seperti yang dikatakan orang-orang Yahudi.
Tuhan yang Mahapemurah. yang bersemayam di atas ‘Arsy. [QS. Thoha]
Maknyanya adalah Allah menguasai ’Arsy. Jika dipahami secara zhahir, maka akan muncul pemikiran bahwa Allah mengambil tempat, dan ini mustahil bagi Allah.
Pena’wilan seperti ini adalah demi menjaga kesucian Allah dari keserupaan dengan makhluq. Penerapan ta’wil seperti ini juga sesuai aqal sehat serta memenuhi seluruh persyaratan ta’wil.
Walaupun kita harus mengakui bahwa ini tidak bisa dibilang sebagai ta’wil yang utuh lantaran cara yang ditempuh melalui majaz masyhur, toh orang Arab bila mendengar orang berkata, ”Raja meletakkan tangannya di atas kota,” akan memahaminya sebagai, ”Raja menggelar kekuasaannya di atas kota.”
Read more >>

Jangan Duakan Cinta Allah


Kata dalam ucapan "basmalah" yang diartikan dalam bahasa Indonesia adalah :
"Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang."

Kata "maha pengasih" yaitu sebagai arti dari "Ar-Rahman", yang mana Allah mengasihi setiap makhluk, baik jin, manusia, hewan. orang yang beriman kepada-Nya atau yang mengingkarinya. semua diberikan apa yang mereka butuhkan. dan kata "maha penyayang" adalah arti dari "Ar-Rahim" yang mana kasih sayang ini hanya khusus untuk hamba-hamba-Nya yang beriman.

Allah mengkhususkan kasih sayang hanya kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. menolong mereka ketika mereka susah. mengampuni dosa-dosa mereka ketika mereka memohon ampunan. dan memberi ketika mereka meminta.

Akan tetapi terkadang kita lupa. lupa akan kasih sayang-Nya yang selalu lebih. Dia tidak meminta balas budi, akan tetapi hanya meminta kita melakukan apa yang baik untuk diri kita sendiri. untuk kemaslahatan kita bersama.

Kita cenderung lupa ketika kita bahagia. kita lupa bahwa kebahagiaan dan kenikmatan yang kita dapat adalah pemberian dari-Nya. kita merasa bahagia tanpa menganggap-Nya dalam hati kita. rasa lapang dada, nyaman dan tenteram dalam keluarga. itu juga karunia dari-Nya.

Kita sering melupakan-Nya ketika sedang bahagia, bagaimana Dia akan mengingat kita ketika kita dalam kesusahan? jangan salahkan Dia ketika kita susah tapi tidak ada pertolongan. karena yang sesungguhnya salah adalah diri kita. yang cenderung mencintai-Nya setengah hati.

jangan sampai kita terlarut dalam kenistaan ini. sampai menduakan cinta-Nya. sebagaimana orang-orang lalu yang tidak tulus dalam mencintai-Nya. Allah berfirman :
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ

Artinya : "Dan diantara manusia ada orang-orang yang menjadikan tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat dzalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal)." (QS Al-Baqoroh : 165)

Read more >>